![]() |
| Sharksinfo.com |
Fitur tubuh hiu akan menjadi pelajaran kita selanjutnya. Sesuai janji, Penulis akan melanjutkan pembahasan tentang ikan hiu maka dari itu baca artikel ini sampai habis ya.
Informasi mengenai ekologi hiu, serta perilaku baik individual maupun group telah memberikan manusia banyak wawasan tentang hiu. Hiu berukuran besar kerap memangsa hiu yang lebih kecil, hirarki yang mensegresi mereka berdasarkan ukuran tampaknya vital untuk keberlangsungan hidup mereka
Dalam sebuah kelompok yang beragam dominasi antar spesies yang berbeda tampak terlihat Dalam persaingan ketika mereka memakan mangsa yang mensugestikan adanya prioritas atau urutan dalam memakan mangsa mereka, hiu biasanya akan mengelilingi mangsanya lalu secara tiba-tiba muncul dari arah yang tidak diduga-duga.
Ketika 3 atau lebih hiu muncul di sekitar mangsa, aktivitas memangsa akan meningkat dari berenang melingkari menjadi menerjang dan memotong jalur dengan cepat. Dalam kekacauan ini aktivitas makan akan berubah lebih intens dan menjadi luapan sensorik yang dapat mengakibatkan kanibalisme atau solvency.
Hiu yang terluka dan berdarah akan dimakan oleh hiu lain tidak peduli jenis maupun ukurannya, hiu dapat menahan untuk tidak memangsa dalam waktu yang lama dan dipenangkaran hiu kerap menolak jika diberi makan.
Aktivitas memangsa ini juga akan hilang pada pejantan saat masa kawin dan pada betina saat masa hamil dan karena kecenderungan kanibal betina, biasanya akan memilih lokasi yang jauh dari hiu besar ketika bertelur atau melahirkan.
Dalam mencari makan hiu lebih menggunakan indra penciuman mereka, indera penglihatan mereka diadaptasikan untuk membedakan objek yang bergerak yang merefleksikan atau memblokir cahaya tidak untuk membedakan warna.
Beat organs atau organ sensori yang terletak di sekujur tubuh mereka berfungsi sebagai indera perasa jarak jauh atau electroreception merespon medan listrik paling kecil sekalipun yang dipancarkan oleh kebanyakan mangsa mereka.
Electroreception pada hiu adalah fitur yang membuat mereka menjadi ahli dalam mendeteksi mangsa dengan akurat, mungkin seperti merasakan kehadiran seseorang yang bersembunyi di ruangan gelap dan kemampuan ini akan sangat berguna di permainan petak umpet alam liar.
Ini adalah cara mereka merasakan dunia mereka, Indra ekstra yang tidak kita miliki, keunggulan ekstra untuk menemukan mangsa mereka. Penemuan manusia akan indra yang luar biasa ini terjadi pada tahun 1678, jauh sebelum penemuan listrik oleh seorang pria bernama Stefano lorenzini. Lorenzini adalah seorang dokter yang sangat mendalami anatomi, yang suatu hari penasaran akan struktur tubuh ikan pari dan membedahnya.
Disitulah ia menemukan sesuatu yang sangat aneh yakni terdapat banyak pori-pori kecil yang menghiasi kulit Pari .Dia kemudian menggambarkan temuan ini dan gambar ini menunjukkan bagaimana setiap pori mengarah ke tabung yang penuh dengan lendir dan setiap tabung berakhir di kantong bundar kecil.
Kantung bundar kecil tersebut mengingatkan Stefano pada semacam Kendi zaman Romawi kuno yang disebut ampullae jadi di namailah kantong bundar itu ampullae of orenzini, tapi lorenzini bingung apa sesungguhnya fungsi ampullae itu. Pertanyaan ini belum juga terjawab hingga 300 tahun kemudian, karena manusia pada saat itu belum tahu persis bagaimana elektro atau listrik bekerja.
![]() |
| Researchgate.net |
Tapi pertanyaan tersebut juga menggiring manusia untuk mempelajari apa yang membuat medan listrik ini dan jauh setelah listrik ditemukan pertanyaan ini mulai terkuak. Jadi setiap kali seekor ikan membuka mulutnya untuk bernafas selaput lendirnya terkena air asin, hal ini menciptakan tegangan listrik kecil dan tegangan listrik tersebut akan menghilang setiap kali ikan menutup mulutnya seperti memancarkan pola on-off berulang-ulang.
Di Florida Atlantic University para peneliti akhirnya mampu mengukur fenomena ini, pola on-off yang berulang itu adalah frekuensi listrik yang merambat dengan mudah melalui air laut karena air asin adalah konduktor listrik yang cukup baik. Ikan yang kelihatan bernafas normal ini sesungguhnya memancarkan arus listrik 2 Heart 2 nafas perdetik.
Ikan pari dapat mendeteksi frekuensi tersebut seperti saluran radio, pori-pori ikan pari mengarah ke kanal panjang yang mengelompok bersama. Ketika arus muatan listrik memasuki Polri arus listrik tersebut bergerak melalui jalur yang sangat konduktif dikanal menuju ampullae.
Dimana terdapat sel-sel khusus yang mendeteksi arus listrik dan mengirim pesan melalui saraf ke otak, begitulah cara ikan pari dapat melihat mangsa yang tersembunyi di bawah mereka. Mangsa yang tidak dapat terlihat oleh mata mereka yang berada di bagian atas kepala mereka.
Di Florida Atlantic University, para peneliti melakukan penelitian untuk membuktikan akurasi pori-pori ikan pari dalam hal mendeteksi arus listrik. Di dalam penelitian tersebut para peneliti menempatkan dioda di lantai tangki, diaoda tersebut mereplikasi frekuensi listrik yang sama seperti ikan yang sedang bernafas.
Mereka menyalurkan arus listrik dari lingkaran ke lingkaran dan ikan pari dengan segera menyerang target yang aktif, tapi ampullae ini tidak hanya digunakan untuk berburu. Pori-pori yang tersebar di punggung Pare juga dapat memberitahu kehadiran pemangsa yang mencoba menyerang dari belakang.
Mungkin dengan mempelajari bagaimana Indra ekstra ini bekerja, manusia dapat memahami cara yang lebih baik untuk hidup berdampingan dengan makhluk purba ini. Menemukan cara baru untuk menjauhkan mereka dari jaring manusia atau dari aktivitas manusia.
Itulah pembahasan tentang fitur tubuh ikan hiu atau Electroreception, semoga dengan adanya artikel ini bisa menambah wawasan kamu. Pembahasan tentang ikan hiu ini masih belum selesai dan akan berlanjut di postingan selanjutnya.


0 Komentar di "Fitur Tubuh Hiu (Shark Electroreception)"
Posting Komentar